Rabu, 09 Februari 2011

Sajian Kebudayaan Khas Yogyakarta (4-habis)

4. Jogja Java Carnival


Inilah megakarnaval yang selalu dinantikan oleh penikmat karnaval dari berbagai penjuru Yogyakarta, Indonesia, bahkan mancanegara. Sebuah mahakarya untuk memperingati HUT Kota Yogyakarta. Dikemas dalam karnaval malam hari dengan komposisi bentuk, warna, cahaya, dan sentuhan teknologi yang menghasilkan kemeriahan serta keceriaan tak tertandingi. Disajikan dalam bentuk arak-arakan kendaraan instalasi seni di sepanjang Jl. Malioboro – Jl. A.Yani dan berakhir di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. Jogja Java Carnival 2010 yang lalu bertemakan “Harmonight” atau yang kurang lebih bermakna Keselarasan di Malam Hari, digelar pada tanggal 16 Oktober 2010.

Nantikan acara yang sama tahun ini. Sebuah kerugian besar jika Anda memutuskan untuk tidak menikmati dan melibatkan diri dalam acara ini. Datang dan berbaurlah dalam harmonisasi di malam hari yang hanya dapat Anda temukan di Kota Jogja.

Sajian Kebudayaan Khas Yogyakarta (3)

3. Festival Kesenian Yogyakarta (FKY)


Sebuah festival tahunan yang rutin diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini biasanya berlangsung pada pertengahan tahun, antara bulan Juni dan Juli selama sebulan penuh, mengambil tempat di beberapa lokasi strategis seperti Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta, Taman Budaya Yogyakarta, Benteng Vredeburg, dan Puro Pakualaman. Dari namanya, festival ini memang berisi berbagai macam produk kesenian yang ada di Yogyakarta. Pada acara pembukaan, Anda akan disuguhi sebuah pawai budaya yang diikuti oleh puluhan komunitas seni dari 5 kabupaten/kota yang ada di provinsi ini.

Untuk pertunjukan sehari-hari, pagelaran seni dan tradisi seperti tari kontemporer, wayang, kethoprak, jathilan, dan teater siap menghibur Anda. Ada juga pameran seni rupa yang menampilkan berbagai karya lukisan, patung, dan instalasi yang dibuat oleh beberapa komunitas seniman Yogyakarta. Selain itu, didirikan pula sebuah Pasar Seni dengan lebih dari 100 stand yang menjual berbagai produk kerajinan, batik, T-shirt, souvenir, sampai stand makanan khas Yogyakarta seperti gudeg, bakpia, geplak, dll.

Sajian Kebudayaan Khas Yogyakarta (2)

2. Yogyakarta Gamelan Festival (YGF)


YGF merupakan festival gamelan yang diselenggarakan oleh sebuah komunitas gamelan di Yogyakarta bernama komunitas Gayam 16. Festival ini melibatkan maestro-maestro gamelan ternama, baik dari dalam maupun luar negeri. Jika Anda mengira sajian gamelan di sini berupa gamelan klasik yang sangat membosankan, Anda salah besar. Para penampil di acara ini senantiasa menyajikan gamelan yang dikemas secara beda dan dikolaborasikan dengan sejumlah alat musik lain, sehingga musik gamelan terdengar lebih hidup, atraktif, dan gaul. Acara ini biasanya diselenggarakan pada pertengahan bulan Juli selama tiga hari berturut-turut (Jumat-Minggu) mulai pukul 19.30 WIB, di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani 1.

Untuk menikmati sajian ini, Anda tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun alias gratis. Dan jika Anda berminat untuk menonton festival ini, datanglah ke lokasi sebelum pertunjukan dimulai. Jika tidak, mungkin Anda akan kehabisan tempat duduk karena peminat acara ini sungguh luar biasa banyak.

Sajian Kebudayaan Khas Yogyakarta (1)

Siapapun Anda yang sedang berkunjung atau berada di Yogyakarta, sangat dianjurkan untuk datang ke acara-acara berikut. Sebagai mahasiswa, misalnya, yang jauh-jauh menuntut ilmu ke kota budaya ini, bisa dibilang rugi besar jika Anda melewatkan hari-hari Anda hanya untuk berkutat dengan materi-materi kuliah, baik di kampus maupun di kost. Ada baiknya Anda keluar sejenak menikmati sisi lain kota ini, melihat betapa kayanya negeri ini. Berikut ini beberapa event budaya tahunan di sekitar kota Yogyakarta yang sungguh sayang untuk Anda lewatkan.

1. Sekaten

Sekaten merupakan sebuah upacara adat yang digunakan untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW, atau kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebelum acara puncak yang disebut Grebeg Mulud, terlebih dahulu diadakan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) selama sebulan penuh, bertempat di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. PMPS inilah yang selalu ditunggu masyarakat Yogyakarta setiap tahunnya. Di sini, Anda dapat menemukan berbagai macam permainan khas pasar malam seperti komedi putar, ombak banyu, tong stand, dan rumah hantu. Beberapa makanan & minuman khas seperti kerak telor, wedang ronde, serta nasi kucing juga bisa dengan mudah Anda temukan di sini. Secara umum memang tidak ada yang berbeda dengan pasar malam lainnya. Namun, suasananya yang ramai tapi ramah khas orang Yogyakarta membuat masyarakat selalu kangen dengan kehadiran PMPS ini.

Tahun ini, PMPS berlangsung selama sebulan lebih dari tanggal 7 Januari - 26 Februari 2011, dengan mengusung tema besar "Harmoni Budaya, Ekonomi, dan Religi."

Sabtu, 11 September 2010

Selamat Idul Fitri 1431 H

Walaupun agak terlambat, e-cardnya cuma ngopy pula, saya sekeluarga mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H.
Mohon maaf lahir & batin.
Semoga menjadi kemenangan yang berkah dan bermanfaat bagi kita & Indonesia.

Kamis, 29 Juli 2010

Technocorner 2010: Roboline Follower Contest

Roboline Follower Contest merupakan lomba adu cepat robot Line Follower. Lomba robot ini merupakan agenda tahunan dari Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik UGM yang tergabung dalam rangkaian acara Technocorner 2010. Lomba ini diselenggarakan hari Sabtu tanggal 24 Juli 2010 yang lalu, di plaza KPTU Fakultas Teknik UGM.


Arena yang digunakan terdiri dari 4 lintasan. Tipe arena ini menjadi ciri khas, lain daripada yang lain, karena dalam satu waktu mengadu 4 robot sekaligus. Arena berukuran 8 x 7 meter ini menambah tingkat kesulitan di mana penggunaan bateray lebih banyak. Sehingga peserta harus mengoptimalisasi penggunaan daya pada robot masing-masing agar tetap mampu bertanding.


Selain itu, perlombaan ini menggunakan sistem poin, di mana peringkat pertama sampai 4 pada setiap pertandingan diberi poin yang berbeda. Peserta dengan poin terbanyak lolos ke babak berikutnya. Setiap peserta mendapat minimal 2 kali hak bertanding.


Sampai hari terakhir pendaftaran, terdapat 87 tim dari berbagai perguruan tinggi dan SMA, seperti ITB, ITS, Politeknik Negeri Jakarta, SMA 9 Yogyakarta, & SMA 1 Ngaglik Sleman. Para peserta ini harus terlebih dahulu melalui kualifikasi untuk menentukan tim mana saja yang melaju ke babak 64 besar. Kualifikasi dilakukan sebanyak 2 kali bertanding, dengan nilai dari kedua race diakumulasikan. Dari babak 64 besar, dengan sistem gugur terpilihlah 16 besar tim untuk bertarung di babak selanjutnya. 16 tim ini memperebutkan 4 tempat di final untuk menentukan juara 1, 2, dan 3.


Selain itu, perlombaan ini menggunakan sistem poin, di mana peringkat pertama sampai 4 pada setiap pertandingan diberi poin yang berbeda. Peserta dengan poin terbanyak lolos ke babak berikutnya. Setiap peserta mendapat minimal 2 kali hak bertanding.


Sampai hari terakhir pendaftaran, terdapat 87 tim dari berbagai perguruan tinggi dan SMA, seperti ITB, ITS, Politeknik Negeri Jakarta, SMA 9 Yogyakarta, & SMA 1 Ngaglik Sleman. Para peserta ini harus terlebih dahulu melalui kualifikasi untuk menentukan tim mana saja yang melaju ke babak 64 besar. Kualifikasi dilakukan sebanyak 2 kali bertanding, dengan nilai dari kedua race diakumulasikan. Dari babak 64 besar, dengan sistem gugur terpilihlah 16 besar tim untuk bertarung di babak selanjutnya. 16 tim ini memperebutkan 4 tempat di final untuk menentukan juara 1, 2, dan 3.


Empat peserta sekaligus beradu dalam satu arena

Salah seorang peserta sedang mempersiapkan robotnya di atas arena

Hasil 16 besar memunculkan nama Stardust, Kui Hao, Megophyres (ketiganya dari jurusan Elins Fakultas MIPA UGM), serta The Little Angle (SMA 1 Ngaglik) untuk bertarung di babak akhir. Tim terakhir ini benar-benar mengejutkan semua pihak karena tim tersebut merupakan satu-satunya tim dari SMA yang mampu melaju hingga final, mengalahkan tim-tim dari perguruan tinggi ternama.


Pada babak final yang sangat ketat dan seru karena keempat tim diadu dalam satu arena, akhirnya tim Kui Hao berhasil mencapai finish dengan waktu tercepat, disusul Stardust dan Megophyres. Kejutan besar dari The Little Angle pun terhenti di babak yang paling menentukan ini. Selamat kepada para pemenang. Terimakasih kepada seluruh peserta telah berpartisipasi dan bertanding dengan sportif. Sampai jumpa tahun depan.

Yogyakarta Gamelan Festival 2010: Gamelan Anytime

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) kembali digelar tahun ini. Penyelenggaraan yang sudah mencapai tahun ke 15 tahun ini diselenggarakan 16-18 Juli 2010 yang lalu di Concert Hall dan Amphi Teater Taman Budaya Yogyakarta. YGF 2010 ini adalah tahun kedua pelaksanaan setelah ditinggal tokoh seniman berpengaruh yang pernah dimiliki Yogyakarta sekaligus Indonesia, yakni Sapto Raharjo.

Sepeninggal Mbah Sapto, YGF digarap oleh putra sulungnya, Ishari Sahida (30), atau yang akrab disapa Ari Wulu. Talenta dan ide-ide liar Mbah Sapto, sapaan bagi Sapto Raharjo, jelas bukanlah tandingan bagi Ari. Karena itulah, kepala utama YGF yang dulu dipegang Sapto, kini harus dijabat oleh tujuh orang. Selain Ari serta sang adik dan suami, ada empat orang lain yang merupakan tangan kanan Mbah Sapto. Merekalah penggerak YGF sekarang.

Mengenai pelaksaan YGF 2010 ini, Ari mengatakan mengusung tema “Anytime” yang dimaknai gamelan pada akhirnya bisa berbunyi setiap waktu tidak dalam konteks bebunyian gamelan yang terdengar tapi spirit bunyi gamelan itu yang bisa memberi manfaat kepada semua pihak. “Gamelan tidak ditabuh setiap saat. Nek ditabuh ono duite, kabeh do nabuh gamelan,” kata Ari.


Yogyakarta Gamelan Festival ke 15 ini diikuti 10 kelompok musik yang memainkan musik gamelan yang dikolaborasikan dengan alat musik lain. 10 kelompok ini adalah KPH 10 (Yogyakarta & USA), Kyai Fatahillah Meets Ensemble Gending (Bandung dan Belanda), OrkeStar Trio with Ramu Thiruyanam (Singapura). Selain itu akan tampil pula Jendela Ide by Bintang Manira, Adi Supriadi, Wawan Kurniawan dan Gita Mahatma (Bandung, Indonesia), Andrawina (Yogyakarta, Indonesia), Sumunar Gamelan & Dance Ensemble (Minnesota, USA), Rene Lysloff (California, USA), Bronze Age( Singapura), Kiai Kanjeng (Yogyakarta).


Pemain, penonton, dan volunteer berbaur menjadi satu pada penutupan YGF 2010

Bagi saya pribadi, gamelan merupakan aset budaya bangsa yang masih memiliki tempat di hati banyak masyarakat, tidak hanya masyarakat Indonesia namun juga warga negara asing. Hal ini bisa dilihat di tiga hari pelaksanaan YGF 2010, penonton selalu memadati Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Tidak sedikit turis asing yang begitu antusias dan sangat menikmati pertunjukan gamelan ini.

Salah satu penampil dalam YGF 2010, yaitu Bronze Age dari Singapura, yang terdiri dari beberapa mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di negaranya, bahkan mengatakan bahwa gamelan merupakan mata kuliah wajib di universitas mereka. Entah harus bangga atau sedih dengan fenomena ini, sungguh sebuah ironi karena gamelan di rumahnya sendiri justru kurang mendapat tempat yang istimewa. Pecinta gamelan sudah banyak, namun penggiatnya tidak sebanding.

Saya dan pecinta gamelan lain berharap, YGF ini akan selalu hadir agar nafasnya dapat selalu kita rasakan, anytime and everywhere. Hanya dengan menghadirkannya di tengah-tengah kita secara langsung, gamelan akan terus tumbuh menjadi sebuah kekayaan tak tertandingi, kekayaan abadi milik bangsa ini.