2. Yogyakarta Gamelan Festival (YGF)
Rabu, 09 Februari 2011
Sajian Kebudayaan Khas Yogyakarta (2)
Sajian Kebudayaan Khas Yogyakarta (1)
1. Sekaten
Sabtu, 11 September 2010
Selamat Idul Fitri 1431 H
Kamis, 29 Juli 2010
Technocorner 2010: Roboline Follower Contest
Arena yang digunakan terdiri dari 4 lintasan. Tipe arena ini menjadi ciri khas, lain daripada yang lain, karena dalam satu waktu mengadu 4 robot sekaligus. Arena berukuran 8 x 7 meter ini menambah tingkat kesulitan di mana penggunaan bateray lebih banyak. Sehingga peserta harus mengoptimalisasi penggunaan daya pada robot masing-masing agar tetap mampu bertanding.
Sampai hari terakhir pendaftaran, terdapat 87 tim dari berbagai perguruan tinggi dan SMA, seperti ITB, ITS, Politeknik Negeri Jakarta, SMA 9 Yogyakarta, & SMA 1 Ngaglik Sleman. Para peserta ini harus terlebih dahulu melalui kualifikasi untuk menentukan tim mana saja yang melaju ke babak 64 besar. Kualifikasi dilakukan sebanyak 2 kali bertanding, dengan nilai dari kedua race diakumulasikan. Dari babak 64 besar, dengan sistem gugur terpilihlah 16 besar tim untuk bertarung di babak selanjutnya. 16 tim ini memperebutkan 4 tempat di final untuk menentukan juara 1, 2, dan 3.
Selain itu, perlombaan ini menggunakan sistem poin, di mana peringkat pertama sampai 4 pada setiap pertandingan diberi poin yang berbeda. Peserta dengan poin terbanyak lolos ke babak berikutnya. Setiap peserta mendapat minimal 2 kali hak bertanding.
Sampai hari terakhir pendaftaran, terdapat 87 tim dari berbagai perguruan tinggi dan SMA, seperti ITB, ITS, Politeknik Negeri Jakarta, SMA 9 Yogyakarta, & SMA 1 Ngaglik Sleman. Para peserta ini harus terlebih dahulu melalui kualifikasi untuk menentukan tim mana saja yang melaju ke babak 64 besar. Kualifikasi dilakukan sebanyak 2 kali bertanding, dengan nilai dari kedua race diakumulasikan. Dari babak 64 besar, dengan sistem gugur terpilihlah 16 besar tim untuk bertarung di babak selanjutnya. 16 tim ini memperebutkan 4 tempat di final untuk menentukan juara 1, 2, dan 3.
Yogyakarta Gamelan Festival 2010: Gamelan Anytime
Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) kembali digelar tahun ini. Penyelenggaraan yang sudah mencapai tahun ke 15 tahun ini diselenggarakan 16-18 Juli 2010 yang lalu di Concert Hall dan Amphi Teater Taman Budaya Yogyakarta. YGF 2010 ini adalah tahun kedua pelaksanaan setelah ditinggal tokoh seniman berpengaruh yang pernah dimiliki Yogyakarta sekaligus Indonesia, yakni Sapto Raharjo.
Sepeninggal Mbah Sapto, YGF digarap oleh putra sulungnya, Ishari Sahida (30), atau yang akrab disapa Ari Wulu. Talenta dan ide-ide liar Mbah Sapto, sapaan bagi Sapto Raharjo, jelas bukanlah tandingan bagi Ari. Karena itulah, kepala utama YGF yang dulu dipegang Sapto, kini harus dijabat oleh tujuh orang. Selain Ari serta sang adik dan suami, ada empat orang lain yang merupakan tangan kanan Mbah Sapto. Merekalah penggerak YGF sekarang.
Mengenai pelaksaan YGF 2010 ini, Ari mengatakan mengusung tema “Anytime” yang dimaknai gamelan pada akhirnya bisa berbunyi setiap waktu tidak dalam konteks bebunyian gamelan yang terdengar tapi spirit bunyi gamelan itu yang bisa memberi manfaat kepada semua pihak. “Gamelan tidak ditabuh setiap saat. Nek ditabuh ono duite, kabeh do nabuh gamelan,” kata Ari.
Yogyakarta Gamelan Festival ke 15 ini diikuti 10 kelompok musik yang memainkan musik gamelan yang dikolaborasikan dengan alat musik lain. 10 kelompok ini adalah KPH 10 (Yogyakarta & USA), Kyai Fatahillah Meets Ensemble Gending (Bandung dan Belanda), OrkeStar Trio with Ramu Thiruyanam (Singapura). Selain itu akan tampil pula Jendela Ide by Bintang Manira, Adi Supriadi, Wawan Kurniawan dan Gita Mahatma (Bandung, Indonesia), Andrawina (Yogyakarta, Indonesia), Sumunar Gamelan & Dance Ensemble (Minnesota, USA), Rene Lysloff (California, USA), Bronze Age( Singapura), Kiai Kanjeng (Yogyakarta).

Pemain, penonton, dan volunteer berbaur menjadi satu pada penutupan YGF 2010
Bagi saya pribadi, gamelan merupakan aset budaya bangsa yang masih memiliki tempat di hati banyak masyarakat, tidak hanya masyarakat Indonesia namun juga warga negara asing. Hal ini bisa dilihat di tiga hari pelaksanaan YGF 2010, penonton selalu memadati Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Tidak sedikit turis asing yang begitu antusias dan sangat menikmati pertunjukan gamelan ini.
Salah satu penampil dalam YGF 2010, yaitu Bronze Age dari Singapura, yang terdiri dari beberapa mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di negaranya, bahkan mengatakan bahwa gamelan merupakan mata kuliah wajib di universitas mereka. Entah harus bangga atau sedih dengan fenomena ini, sungguh sebuah ironi karena gamelan di rumahnya sendiri justru kurang mendapat tempat yang istimewa. Pecinta gamelan sudah banyak, namun penggiatnya tidak sebanding.
Saya dan pecinta gamelan lain berharap, YGF ini akan selalu hadir agar nafasnya dapat selalu kita rasakan, anytime and everywhere. Hanya dengan menghadirkannya di tengah-tengah kita secara langsung, gamelan akan terus tumbuh menjadi sebuah kekayaan tak tertandingi, kekayaan abadi milik bangsa ini.
Kamis, 04 Maret 2010
Sarjana Kurang Sehat
Tiga tahun terakhir, kegagalan tes kesehatan sarjana pencari kerja terus meningkat. Sebagian besar kegagalan akibat penyakit degeneratif yang erat dengan gaya hidup dan pola makan tidak sehat. Salah satunya terlihat dari tes kesehatan seleksi pegawai PLN yang dilakukan Engineering Career Center (ECC) UGM. Tingkat kegagalan mencapai 57 %. Dari 371 pelamar, hanya 111 yang lolos tes kesehatan.
Dari jumlah itu, kegagalan terbanyak karena kadar kolesterol tinggi yang mencapai 34 %. Kegagalan kedua buruknya kondisi jantung sejumlah 17 %, kemudian diabetes mellitus, serta asam urat. Fenomena kegagalan yang terus meningkat ini hampir terjadi di seluruh Indonesia.
Selain kesehatan, jumlah kegagalan tes psikologi ketika melamar kerja juga sangat tinggi. Rata-rata di atas 40 % pada berbagai perusahaan. Lulusan perguruan tinggi juga dinilai kurang matang secara emosional untuk bekerja. Selain kurang mampu menangani konflik dan tekanan kerja, keterampilan bekerja sama dalam tim juga minim.
Sebaliknya, tingkat keberhasilan seleksi akademik justru meningkat. Ini menunjukkan mahasiswa sekarang pintar-pintar, IPK mereka tinggi, tetapi kurang pengembangan diri dan kemampuan sosial.
Menurut Ketua Satgas Kemitraan Industri UGM, Nurhadi, kemampuan akademis tak banyak menambah peluang lulusan perguruan tinggi diterima bekerja. Kemampuan akademis dan keterampilan hanya menyumbang 20 % untuk diterima bejerja. Adapun 80 % lainnya adalah kemampuan sosial dan pengembangan diri. Perusahaan pun lebih menyukai lulusan yang aktif berorganisasi saat kuliah.
Untuk mengatasi ketidaksiapan sarjana terjun ke dunia kerja, perguruan tinggi perlu mendorong pendidikan pengembangan diri mahasiswa. Kampus jangan hanya berorientasi nilai akademis, tetapi juga memberi kesempatan mahasiswa berkembang di sisi sosial dan kegiatan kemasyarakatan.
